Senin, 02 Juni 2008

ULASAN BUKU

MATI DI LUMBUNG SENDIRI

(IRONI SEBUAH NEGERI)

Oleh. Asep Mansyurudin


Judul : Ironi Negeri Beras

Penulis : Khudori

Penerbit : Insist Press

Cetakan : Juni 2008

Tebal : xvi + 366 Halaman

Ukuran : 19 X 21 cm

Kedaulatan pangan adalah kata yang setiap kali dibaca dengan terbata-bata dalam upacara-upacara besar negara. Kata yang masih samar kita definisikan dalam pikiran apalagi dalam tindakan, tepatnya masih berupa sesuatu yang ada dalam imajinasi setiap orang di negara ini. Namun, apakah kedaulatan pangan sudah dirasakan oleh dan untuk diri kita sendiri? Atau, kedaulatan pangan hanya sebagi slogan semata?

Bahwa kedaulatan pangan merupakan hal yang sangat penting dalam rangka pembangunan nasional untuk membentuk manusia Indonesia yang berkualitas, mandiri, dan sejahtera melalui perwujudan ketersediaan pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi dan beragam serta tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia dan terjangkau oleh daya beli masyarakat; begitulah yang termaktub dalam pertimbangan peraturan pemerintah tentang ketahanan pangan (PP No 68 Tahun 2002).

Sehingga pemerintahpun menyokong Deptan dengan mengalokasikan dana sebesar Rp. 8,7 milyar untuk menggenjot produktivitas pangan terutama beras di Indonesia dari 54.40 Juta ton menjadi 58,18 Juta ton untuk tahun 2007 atau naik sebesar 5% dari tahun 2006, presiden merasa yakin pertumbuhan ini dapat tercapai dengan dukungan semua pihak. Dan Deptanpun menyusun lima program unggulan : subsidi benih, pengembangan tata air mikro, rehabilitasi jaringan tingkat usaha tani, jaringan usaha irigasi desa, pembuatan sawah baru dan pengendalian organisme pengganggu tanaman. (Khudori, 2008: 48-49).

Beras Sebagai Komoditi Pokok Pangan

Mengapa beras menjadi komoditas pokok pangan masyarakat Indonesia? Beras dianggap sebagai bahan pokok pangan memiliki nilai yang sangat tinggi dan dari sisi gizi sert nutrisi beras memiliki keunggulan dibandingkan dengan bahan pokok pangan lain, sebab beras mengandung banyak kandungan yang dibutuhkan oleh tubuh seperti kalori yang mencapai 360 kalori per 100 gr, 6,8 gr per-100 gr protein dan lemak yang hanya 0,7 gr per-100 gr. Karena kelebihan inilah yang memungkinkan masyarakat Indonesia menjadikan beras sebagai bahan pokok pangan paling banyak dikonsumsi.

Beras juga merupakan komoditi yang sangat penting bukan saja di Indoensia bahkan di dunia, beras merupakan pangan pokok bagi lebih dari 3 milyar penduduk dunia paling tidak bagi sebagian beras penduduk di Asia. Beras adalah komoditas pangan yang mencakup 22,7 % dari luar pertanaman atau 28,8% dari luas pertanaman biji-bjian di dunia.

Beras juga di tanam di lebih dari 122 negara terutama di negara-negara Asia. Sebaran tanam di negara-neagra Asia ini merata dari wilayah tropis dan wilayah sub tropis. Dalam beberapa tahun ke depan posisi penting ini tidak akan berubah, bahkan FAO memperkirakan konsumsi beras akan mencapai lebih dari 420 juta ton untuk 4,5 milyar lebih jiwa.

Masyarakat Indonesia hampir di semua lapisan masyarakatnya memilih beras sebagai bahan pokok pangan tanpa terkecuali. Konsumsi beras sebagai bahan pangan pokok masyarakat Indonesia kini mencapai 97-100% padahal pada tahun 1954 konsumsi beras baru mencapai 53,5% saja, hal ini disebabkan sebagian masyarakat masih mengkonsumsi bahan pangan lain seperti sagu, ubi dan jagung. Namun setelah Inpress Nomor. 14 tahun 1975 tentang perbaikan menu makanan rakyat yang kemudian disempurnakan dengan Inpress Nomor. 20 tahun 1979. Kini, masyarakat Indonesia sudah berevolusi dengan mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan pokok, hanya 3% saja yang masih mengkonsumsi bahan pangan selain beras.

Berkat rekayasa negara inilah secara dramatis pola keanekaragaman konsumsi bahan makanan yang berbasis konsumsi makanan lokal bergeser menjadi satu jenis pangan yakni beras. Pergeseran ini terjadi seiring keberhasilan Indonesia berswasembada beras pada tahun 1984.

Ironi Sebuah Negeri

Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki kapasitas produksi gabah di tahun 2007 yang sebesar 58,18 juta ton, menjadi bagian negara utama dan terpenting produsen beras di Asia. Dengan tingkat pertumbuhan produksi dalam kisaran 2,5-5% pertahun Indonesia selayaknya menjadi negara yang kaya akan pangan pokok terutama beras.

Rentang waktu pasca reformasi politik di Indonesia justru menjadi titik balik bagi masyarakat yang selama ini terlena dan dininabobokan dengan iklim kehidupan politik dan ekonomi Orde Baru, hal ini dibuktikan dengan meningkatya volume impor bahan pokok pangan seperti beras sebagai gambaran bisa dilihat dalam buku ini tabel 2.7 hal.35.

Jika pada tahun 1965 total 8,8 juta ton beras, volume impor beras hanya 9% atau setara dengan 819.000 ton beras, dan hal ini terus melonjak bahkan sampai pada tahun 1998 total impor beras Indonesia mencapai 7,1 juta ton beras atau setara dengan 22,8% dari total suplai beras nasional.

Dengan rata-rata volume impor yang di atas 3 juta ton pertahun memilki kecenderungan Indonesia menjadi negara yang sudah tidak lagi mampu berswasembada beras meski pada rentang tahun 2004-2005 memiliki kecenderungan adanya peningkatan bahkan surplus, namun hal tersebut justeru tidak membuat negara ini berhenti mengimpor beras bahkan membuka peluang-peluang baru bagi sektor swasta untuk mengimpor beras yang menyebabkan kehidupan petani semakin sulit.

Realitas inilah yang menyebabkan Indonesia menjadi salah satu negara pengahasil beras namun tidak dapat menngangkat kesejehteraan masyarakatnya, hal ini dibuktikan dengan lebih dari 36 juta masyarakat miskin yang penghasilannya kurang dari 2 dollar US. Bahkan Posman Sibuea menggambarkan bahwa, jumlah warga miskin hampir 109 juta—dengan pendapatan di bawah 2 dollar AS per hari—dan sekitar 70 persen di antaranya petani di pedesaan (Bank Dunia, 2006). Patut diduga, jumlah penduduk yang mengalami kelaparan dan busung lapar akan bertambah. Dampaknya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia di masa datang kian merosot. UNDP menyebut, IPM Indonesia tahun 2007 di urutan ke-107 dari 177 negara, lebih rendah dari Vietnam (posisi 105).

Ironi sebuah negeri, maka tak perlu heran jika pemerintah mengekspos Peta Kerawanan Pangan (Food Insecurity Atlas/FIA) Nasional pada tahun 2005, dari sekitar 265 kabupaten di Indonesia, 100 di antaranya masuk kategori rawan pangan utama. Wajar jika banyak orang terperangah mendengar terjadi rawan pangan di beberapa kabupaten surplus pangan.

Buku ini ditulis oleh seorang sarjana ilmu tanah yang rajin menelisik politik pangan terutama beras sedikit banyak dibuktikan dengan beberapa aktifitasnya dalam ranah pangan terutama beras serta beberapa tulisannya yang tersebar di beberapa media nasional yang mengulas banyak hal tentang pangan terutama beras. Salah satu tulisannya yang berjudul Ekonomi Politik Beras dimuat harian Kompas, 5 januari 2006.

Tak heran apabila buku ini sangat sarat dengan data-data penting mengenai beras, sebagai bahan pokok pangan masyarakat Indonesia. Apabila kita lihat struktur buku ini juga terbilang lengkap karena pembaca akan dibantu oleh beberapa tabel dan data yang cukup banyak meskipun untuk orang yang awam dalam arti tidak memiliki kemampuan membaca data-data statistik mungkin tidak akan cukup memberikan gambaran yang utuh.

Buku ini cukup unik menurut saya karena dalam setiap akhir bab dilengkapi dengan pekerjaan rumah atau keterangan-keterangan yang mengarah pada agenda-agenda berasma untuk memperbaiki keadaan yang telah dibeberkan sebelumnya salah satu bagian yang menurut saya sangat penting untuk dibaca setiap orang tidak hanya stakeholder saja.

Buku ini mengupas hal-hal yang mencakup sosial, ekonomi, budaya dan sejarah akan beras. Seperti terlihat dalam penyusunan struktur dalam buku ini yang di awali oleh sejarah tentang beras. Dalam Bab I sampai Bab III sejarah dikupas oleh penulis mulai dari jejak sejarah beras sebagai tanaman budidaya, jenis-jenis beras yang dibudidayakan, jejak Revolusi Hijau, proses penciptaan dan kreasi berlatar budaya tradisi seputar padi, sayang bab ini tidakdilengkapi gambar jenis-jenis padi yang disebutkan. Seputar ekonomi dan bisnis beras, sampai politik beras dan anatomi petani beras dihadirkan dalam buku yang memiliki ketebalan lebih dari 300 halaman, buku yang cukup melelahkan apabila dibaca terus-menerus. Namun buku ini cukup penting untuk dibaca dan dimiliki oleh pemegang kebijakan, pemerhati masalah pangan, dosen, peneliti, mahasiswa, aktivis lingkungan, maupun pebisnis. Sebab buku ini mengulas secara utuh sisi-sisi beras sehingga pembaca memiliki gambaran yang cukup luas berkitan erat dengan pangan berikut dinamika yang menyertainya.

Tidak ada komentar: